From Learner Needs To Materials & Learning Experiences
By: Fajarudin Akbar
lock Log in to RSVP View Webinar Details
Selected sessions for professional growth.
By: Fajarudin Akbar
lock Log in to RSVP View Webinar Details
lock Login untuk Recording
lock Login untuk Recording
Recording Not Available history_toggle_off
lock Login untuk Recording
lock Login untuk Recording
Dengarkan inspirasi dan obrolan santai dari dunia pendidikan.
Menguasai bahasa asing bukan hanya tentang bisa berbicara dalam bahasa lain. Lebih dari itu, kemampuan ini dapat membuka peluang baru, memperluas relasi, meningkatkan kepercayaan diri, hingga membawa perubahan besar dalam perjalanan hidup dan karier. Di video ini, Mira Zakaria dari Polyglot Indonesia berbagi insight tentang bagaimana kemampuan berbahasa asing dapat menjadi investasi berharga yang membuka lebih banyak kesempatan di masa depan.
Mau jadi Cabin Crew? Yuk, cari tahu apa saja yang sebenarnya dicari oleh recruiter maskapai! Di episode ITCast kali ini, Ms. Astri Amijaya, mentor dari Cabin Crew Indonesia, membagikan berbagai insight seputar proses seleksi cabin crew, tips agar lebih siap menghadapi rekrutmen, serta pentingnya kemampuan bahasa Inggris untuk membangun karier di industri aviasi.
Belajar bukan sekadar menguasai konten, tapi membentuk mindset untuk terus tumbuh dan beradaptasi. Dalam episode ini, Ibu Itje Chodidjah berbagi bagaimana deep learning menumbuhkan rasa ingin tahu, refleksi, dan semangat belajar sepanjang hayat, baik bagi pendidik maupun peserta didik.
Banyak organisasi melakukan efisiensi, tapi bagaimana memastikan pengetahuan penting tidak ikut hilang? Bersama Albert Jayadi, S.Psi., HR Consultant berpengalaman, kita bahas strategi menjaga critical knowledge agar organisasi tetap kuat di tengah restrukturisasi.
Kemampuan menguasai lebih dari satu bahasa bukan sekadar komunikasi — melainkan modal strategis di era global. Dalam episode ini, Doni Rizal Husin, Direktur PT Putra Pratama Raya, membahas bagaimana multilingualisme dapat meningkatkan daya saing individu dan memperkuat hubungan bisnis lintas negara.
Fenomena sertifikasi palsu semakin marak dan berdampak besar di dunia kerja. Melalui episode ini, Dinar TheHR menjelaskan bagaimana sertifikasi resmi dapat meningkatkan kredibilitas, membuka peluang karier global, dan bahkan memengaruhi level gaji seseorang.
Practical strategies and inspiration directly from educators.
This article examines the complex interplay between student learning styles and self-motivation, synthesizing empirical evidence across various educational levels to challenge the traditional reliance on rigid, unimodal sensory categories. While sensory preferences—namely visual, auditory, and kinesthetic modalities—exhibit positive correlations with academic performance when students actively leverage their dominant traits, longitudinal and correlational data reveal that sensory styles do not statistically dictate or correlate with a student’s baseline self-motivation. Instead, self-motivation operates as an independent internal drive that is highly responsive to student-centered instructional models, such as Problem-Based Learning (PBL), and broader environmental, psychological, and physiological variables. This article argues that instead of labeling students under restrictive, static learning profiles, modern educators must cultivate adaptive, multimodal learning environments that foster intrinsic motivation, optimize cognitive retention, and facilitate active, collaborative knowledge construction.
The rapid acceleration of digital technology has integrated virtual platforms into the daily lives of adolescents, positioning them at a critical crossroads between vast information access and systemic digital risks. This article explores the necessity of cultivating digital ethics and literacy among the younger generation, specifically Gen Z and Alpha. By examining prevalent issues such as cyberbullying, fake news, and negative content, we evaluate the collective roles of government regulations, educational institutions, and practical frameworks in fostering positive digital footprints. Ultimately, equipping youth with digital citizenship values is paramount to transforming them from passive consumers into responsible digital creators.
While icebreaker activities are widely celebrated in pedagogy for their ability to disrupt classroom monotony and lower affective filters, their precise role in facilitating academic engagement and cognitive performance remains a subject of ongoing discussion. This article synthesizes recent empirical data and qualitative findings from diverse educational settings to explore how icebreakers influence classroom dynamics. Examining quantitative shifts in student participation and the critical nuance of emotional readiness versus direct cognitive mastery, we argue that the true power of these activities lies in transitioning from generic "play" to structured "connection before content." By exploring both digital and non-digital game-based strategies alongside their real-world implementation challenges, this article provides educators with an evidence-based framework to strategically deploy icebreakers as intentional pedagogical scaffolds.
This article traces the historical trajectory of global educational systems, charting their evolution from the earliest elite formal schools in ancient civilizations to the standardizing mechanisms of the Industrial Era and the contemporary debate over grading. By exploring the roots of educational philosophy in Egypt, China, India, Greece, and Rome, we observe a steady shift from holistic, exploratory learning models to standardized, mechanical structures designed to fit the demands of industrial economies. Crucially, this study examines the origins of the A–F letter grade system established in the late 19th century and brings forward decades of empirical, psychometric data that challenge the validity of quantitative marks. The synthesis of this evidence demonstrates how competitive grading undermines intrinsic motivation, cooperative learning, and mental well-being, pointing toward the urgent necessity of restoring narrative, feedback-driven educational environments.
Transformasi pendidikan di era digital bukan sekadar tentang pengadaan infrastruktur teknologi, melainkan tentang pergeseran paradigma budaya di dalam kelas. Artikel ini mengeksplorasi peran strategis guru sebagai role model digital dalam membentuk karakter warga digital yang bertanggung jawab bagi Generasi Z. Melalui analisis tantangan etis seperti hoaks, perundungan siber, dan penggunaan AI, artikel ini merumuskan strategi konkret mulai dari internalisasi nilai hingga pembiasaan etika digital. Disimpulkan bahwa integritas moral guru merupakan fondasi utama yang tidak dapat digantikan oleh algoritma, guna memastikan teknologi tetap menjadi sarana penguatan nilai kemanusiaan.
Pembelajaran berdiferensiasi hadir sebagai strategi krusial untuk mengatasi tantangan rendahnya keterlibatan siswa di kelas SMK, di mana data menunjukkan bahwa saat ini hanya sekitar 40% peserta didik di Indonesia yang aktif dalam proses belajar-mengajar. Melalui penyesuaian pada elemen konten, proses, produk, dan lingkungan belajar yang didasarkan pada data kesiapan, minat, serta profil belajar siswa, pendekatan ini terbukti secara ilmiah mampu meningkatkan keterlibatan belajar hingga 25% dan kreativitas sebesar 30%. Artikel ini memberikan panduan praktis bagi guru SMK untuk meninggalkan metode one-size-fits-all demi mewujudkan prinsip teaching at the right level yang selaras dengan semangat Kurikulum Merdeka. Dengan mengimplementasikan strategi yang terukur, pendidik tidak hanya meningkatkan hasil akademik tetapi juga membekali siswa dengan keterampilan yang relevan dan inklusif sesuai dengan potensi maksimal mereka untuk bersaing di dunia kerja
Mengapa ada peserta didik yang telah belajar bahasa Inggris selama bertahun-tahun tetapi masih kesulitan berbicara, sementara yang lain berkembang pesat hanya dengan belajar secara mandiri setiap hari? Artikel ini membahas mengapa kelas bahasa Inggris bukanlah faktor utama pembentuk kefasihan, melainkan kebiasaan menggunakan bahasa secara konsisten. Dengan mengacu pada temuan-temuan penelitian terkini dalam Second Language Acquisition (SLA) dan ilmu kognitif, artikel ini menawarkan perspektif yang relevan bagi guru, dosen, dan praktisi pendidikan dalam merancang pembelajaran yang benar-benar menghasilkan kemampuan berbahasa.
Artikel ini membahas strategi dan tips komprehensif dalam pengajaran Bahasa Inggris di lingkungan pendidikan vokasi, sebuah disiplin yang kini lebih dikenal sebagai English for Specific Purposes (ESP). Fokus utama tulisan ini adalah pada pentingnya pergeseran orientasi dari materi bahasa umum menuju materi terapan yang sinkron dengan kebutuhan industri. Melalui pendekatan metode Learning by Doing, integrasi konten teknis ke dalam tata bahasa, serta penerapan strategi pengajaran yang memotivasi siswa, tenaga pendidik diharapkan mampu mencetak lulusan yang tidak hanya mahir secara linguistik, tetapi juga siap bersaing di pasar kerja nasional maupun internasional.
Artikel ini membedah transformasi peran guru dalam ekosistem pendidikan yang semakin terintegrasi dengan Kecerdasan Buatan (AI). Meskipun AI menawarkan efisiensi dalam personalisasi pembelajaran dan tugas administratif, teknologi ini tidak mampu menggantikan dimensi fundamental kemanusiaan seperti empati, integritas, dan penilaian moral. Dengan mensintesis data mengenai penggunaan AI di sekolah dan tantangan yang muncul, artikel ini menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan di masa depan bergantung pada transisi peran guru: dari sekadar penyampai informasi menjadi pembimbing kritis yang menanamkan kebijaksanaan dan karakter pada peserta didik.
Pengangguran kaum muda di Indonesia menjadi paradoks pembangunan di mana lulusan pendidikan formal, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dengan tingkat pengangguran 13,55% pada tahun 2020, justru sulit terserap oleh pasar kerja akibat ketidaksesuaian (mismatch) kompetensi yang mencapai angka di atas 50%. Artikel ini mengeksplorasi peran pendidikan fungsional dan vokasional (TVET) sebagai solusi strategis untuk menjembatani kesenjangan antara teori akademik dan kebutuhan praktis industri. Melalui pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada hasil nyata (doing), penguatan sistem ganda (dual system), dan pemanfaatan kebijakan seperti Super Deduction Tax, pendidikan dapat bertransformasi dari sekadar mencetak ijazah menjadi penghasil tenaga kerja kompetitif dan pencipta lapangan kerja. Transformasi ini, yang didukung oleh digitalisasi dan sinergi lintas sektoral, merupakan kunci utama dalam mengatasi tantangan pengangguran muda secara berkelanjutan demi mengoptimalkan bonus demografi Indonesia.
Diskursus mengenai efektivitas antara pengetahuan teoretis dan praktis tetap menjadi pusat perhatian dalam dunia pendidikan, khususnya dalam penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Artikel ini menganalisis dikotomi tersebut dengan meninjau data empiris mengenai keberhasilan pembelajar bahasa (Good Language Learners) di Indonesia serta tren global menuju pendidikan berbasis keterampilan. Pengetahuan teoretis diakui sebagai fondasi konseptual, sementara pengetahuan praktis berfungsi sebagai sarana implementasi dan adaptasi dunia nyata. Dengan mensintesis teori sosiokultural dan data strategi belajar milenial, artikel ini mengeksplorasi model integratif sebagai solusi optimal bagi siswa masa kini. Kesimpulan artikel ini menekankan pada pentingnya keseimbangan antara gelar akademik dan kemahiran teknis, sembari mengajak para pendidik untuk merefleksikan prioritas instruksional mereka.
Artikel ini menganalisis pergeseran paradigma dari ujian tradisional yang berbasis retensi informasi menuju sistem asesmen holistik yang selaras dengan kebutuhan industri abad ke-21. Melalui tinjauan data global, ditemukan adanya kesenjangan kompetensi di mana 60% siswa berprestasi dalam ujian justru gagal dalam aplikasi praktis. Artikel ini mengeksplorasi model asesmen berbasis kinerja (performance-based assessment) dan multiple measures sebagai solusi untuk menjembatani dunia akademik dan profesional. Penulis berargumen bahwa integrasi antara kualifikasi formal (gelar) dan penguasaan kompetensi adaptif (keterampilan) merupakan format evaluasi yang paling relevan bagi siswa saat ini, sembari memberikan ruang bagi pembaca untuk mengevaluasi efektivitas metode tersebut dalam konteks institusi masing-masing.
Silence in the classroom is often misinterpreted as a singular state of either perfect discipline or complete disengagement. However, research reveals that silence is a complex spectrum ranging from the "silence of fear" to the "golden silence" of deep reflection. This article explores the nuanced meanings behind student silence, distinguishing between negative reticence—driven by anxiety, low confidence, and peer pressure—and positive silence, which facilitates independent processing and "deep work". By understanding these drivers, educators can implement strategies to break the barriers of negative silence through student-centered activities while intentionally nurturing purposeful quiet to enhance learning outcomes
Imagine a world where 100% of students don't just pass—they excel, reaching scores they never thought possible. This is a reality where 97% of learners are so engaged that they actively ask to continue their journey long after the official program ends. From the high-stakes offices of the ASEAN Secretariat to classrooms in over 30 countries, this system effectively eliminates the paralyzing anxiety of speaking in public by providing instant, private feedback from cutting-edge AI on every word spoken or written. With over 1,000 hours of content that evolves with the user, it turns traditional learning on its head, proving that when you stop just receiving information and start experiencing it, true fluency becomes inevitable.
This article discusses how the job market is shifting from relying mainly on academic degrees to valuing practical, job-ready skills. While university credentials still matter in many fields, employers increasingly look for technical ability, communication, adaptability, and other “power skills.” The article highlights the need for a balanced approach that combines formal education with continuous skill development.
The integration of Artificial Intelligence (AI) into English Language Teaching (ELT) has transitioned from a futuristic concept to a transformative classroom reality. This article examines the dual role of AI as both a pedagogical assistant for educators and a personalized learning partner for students. By analyzing current trends, we detail how AI facilitates material preparation, interactive lesson presentation, and data-driven evaluation. Furthermore, the article explores the student perspective on AI's efficacy in developing language skills, ultimately arguing for a collaborative model where AI enhances rather than replaces the human element in education .
This article explores how teachers can set healthy boundaries without losing professionalism or care. By learning when and how to say “no,” educators can protect their energy, manage expectations, and stay more present for their students. The article also offers practical ways to handle classroom responses and professional demands with clarity, empathy, and confidence.
Artikel ini membahas eliciting vocabulary sebagai teknik untuk memancing siswa menemukan kosakata melalui gambar, benda nyata, gerakan, konteks, atau petunjuk bahasa. Dengan cara ini, kelas menjadi lebih aktif dan berpusat pada siswa, sekaligus membantu mereka mengingat kosakata lebih lama. Namun, guru tetap perlu menggunakan teknik ini dengan bijak agar proses belajar tidak berubah menjadi sekadar permainan menebak kata.
Artikel ini membahas strategi menghadapi tantangan kelas melalui instruksi yang jelas, manajemen waktu yang efektif, dan konsistensi yang empatik. Dengan pendekatan praktis, guru dapat mengatasi perilaku disruptif, meningkatkan keterlibatan belajar, dan menciptakan suasana kelas yang lebih stabil tanpa mengorbankan kesejahteraan mereka sendiri.
This article discusses how English exam preparation should go beyond memorization and test drills. Teachers are encouraged to use diagnostic assessment, personalized learning plans, and real-world practice to help students improve both their test performance and actual communication skills. The goal is not only to achieve higher scores, but to build confident and capable English users.
This article explores the difference between content feedback and language feedback in English classrooms. Instead of focusing immediately on grammar mistakes, teachers are encouraged to respond to students’ ideas and meaning first. By prioritizing communication over correction, students can become more confident, engaged, and willing to express themselves in English.
Materials, strategies, and insights for TOEIC preparation for teachers.
This video explains the value of the TOEIC® test as a global standard for assessing English communication skills in the workplace. It shows how the test is aligned with international frameworks like the CEFR, trusted by over 14,000 organizations worldwide, and focused on real-world professional language use.
This video introduces the multi-stage adaptive format used in the TOEIC® Listening & Reading test. It explains how the test adapts to the test taker’s performance by presenting a common first section followed by a second section tailored to their level. This format increases accuracy while maintaining consistent question types.
This video shows how the TOEIC® test includes realistic communication tasks—such as emails, phone calls, announcements, and reports—to assess the kind of English used in everyday work situations. It emphasizes practical language skills over academic grammar knowledge.